Beras

Bulog Sumbar Jual Beras Premium Rp77.000 Pakai QRIS Saat Ramadan 2026

Bulog Sumbar Jual Beras Premium Rp77.000 Pakai QRIS Saat Ramadan 2026
Bulog Sumbar Jual Beras Premium Rp77.000 Pakai QRIS Saat Ramadan 2026

JAKARTA - Program pembelian beras premium dengan harga terjangkau yang digelar Perum Bulog Wilayah Sumatra Barat menjadi angin segar bagi masyarakat pada pekan pertama Ramadan 2026. 

Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok yang kerap terjadi menjelang dan selama bulan puasa, langkah ini dipandang sebagai bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan. 

Melalui skema pembayaran digital menggunakan QRIS, masyarakat dapat memperoleh beras premium kemasan lima kilogram dengan harga Rp77.000, lebih rendah dibanding harga pasar saat ini.

Kebijakan tersebut bukan hanya bertujuan menekan lonjakan harga, tetapi juga memperluas literasi transaksi non-tunai di tengah masyarakat. Kolaborasi antara Bulog dan Bank Indonesia menjadi fondasi utama pelaksanaan program ini. 

Sinergi itu menghadirkan kemudahan pembayaran sekaligus memastikan distribusi beras berjalan lancar di titik-titik yang telah ditentukan. Antusiasme warga terlihat sejak hari pertama pelaksanaan, terutama di dua lokasi utama, yakni Pasar Raya Padang dan Pasar Ateh Bukittinggi.

Stabilitas Harga Pangan Ramadan

Ramadan kerap menjadi periode sensitif terhadap harga bahan pokok, khususnya beras sebagai komoditas utama masyarakat. Permintaan yang meningkat sering kali berdampak pada kenaikan harga di tingkat pasar. 

Dalam konteks inilah Bulog Sumbar mengambil langkah intervensi melalui penjualan beras premium lokal dengan harga yang telah ditetapkan sebesar Rp77.000 per lima kilogram.

Pimpinan Wilayah Bulog Sumbar, Darma Wijaya, menyebut program bayar Rp77.000 pakai QRIS untuk kemasan beras lima kilogram tersebut sebagai bentuk kolaborasi dengan Bank Indonesia agar harga pangan tetap stabil selama Ramadan. 

“Jadi bayar pakai QRIS senilai Rp77.000 untuk kemasan beras 5 kg itu, beras yang digunakan suntiang anak daro. Kami pun memberikan hadiah berupa bawang merah dan cabai merah kepada setiap masyarakat yang melakukan transaksi pakai QRIS. Kalau tidak pakai QRIS juga bisa, tapi tidak hadiahnya,” kata dia.

Harga tersebut dinilai sangat kompetitif jika dibandingkan dengan harga beras premium di pasaran yang saat ini relatif tinggi. Karena itu, tidak mengherankan bila masyarakat merespons positif kebijakan ini. Banyak warga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka selama bulan puasa.

Kolaborasi dan Digitalisasi Pembayaran

Selain menjaga stabilitas harga, program ini juga mendorong penggunaan sistem pembayaran digital melalui QRIS. 

Pembeli yang bertransaksi menggunakan QRIS memperoleh tambahan hadiah berupa bawang merah dan cabai merah. Insentif ini menjadi daya tarik tersendiri sekaligus edukasi bagi masyarakat untuk semakin terbiasa menggunakan metode pembayaran non-tunai.

Darma menjelaskan bahwa layanan pembelian beras dengan QRIS ditempatkan berdampingan dengan layanan penukaran uang baru dari Bank Indonesia. 

“Jadi beli beras pakai QRIS ada berdampingan dengan layanan Bank Indonesia melakukan penukaran uang baru. Alhamdulillah, sejauh ini mendapat antusias yang tinggi dari masyarakat,” tegasnya.

Kehadiran dua layanan tersebut di satu lokasi mempermudah masyarakat dalam memenuhi kebutuhan Ramadan. Mereka dapat membeli beras dengan harga terjangkau sekaligus menukarkan uang baru untuk keperluan hari raya. Konsep ini menunjukkan bahwa stabilisasi harga pangan dapat berjalan beriringan dengan transformasi sistem pembayaran.

Durasi dan Perluasan Program

Program ini dijadwalkan berlangsung hingga Jumat, 27 Februari 2026. Namun, Darma mengaku belum dapat memastikan apakah kegiatan tersebut akan benar-benar berakhir pada tanggal tersebut atau justru diperpanjang. Keputusan selanjutnya masih menunggu respons dari pemerintah daerah.

Saat ini, pelaksanaan program baru tersedia di Kota Padang dan Bukittinggi. Bulog belum menyebarkan layanan serupa ke seluruh kabupaten dan kota di Sumatra Barat. Darma menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa bergerak sendiri tanpa dukungan pemerintah daerah setempat.

“Jadi kami pun tidak bisa bergerak sendiri, harus ada kolaborasi bersama. Kalau pemerintah daerah mau, ayo kita bersinergi. Tapi kalau tidak ada rencana untuk menerapkan beli beras pakai QRIS itu di daerah mereka, ya kami belum bisa hadir ke kabupaten dan kota lainnya itu,” kata Darma.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kerja sama lintas lembaga dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Tanpa dukungan pemerintah daerah, jangkauan program akan tetap terbatas pada wilayah tertentu saja.

Respons dan Harapan Masyarakat 

Tingginya harga beras di pasar membuat program ini terasa sangat membantu, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Salah seorang warga Padang, Yani, mengaku bersyukur bisa memperoleh beras premium seharga Rp77.000 per lima kilogram.

Menurutnya, kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih membuat pengeluaran rumah tangga harus dikelola secara cermat. Kehadiran program beras murah dari Bulog menjadi solusi yang meringankan beban keluarga selama Ramadan. 

“Bagi kami, selaku masyarakat berpenghasilan pas-pasan ini, adanya pemerintah atau Bulog yang menjual beras dengan harga yang murah, sangat membantu kami untuk mendapat pangan beras,” ujarnya.

Ia berharap program tersebut tidak hanya berlangsung selama sepekan, tetapi bisa diperpanjang hingga akhir Ramadan. Dengan demikian, kebutuhan beras keluarga dapat tercukupi tanpa harus terbebani lonjakan harga pasar. 

“Kalau Ramadan ini, kebutuhan beras yang paling utama, sekarang ada harga murah, semoga ada terus program seperti ini,” tutupnya.

Harapan masyarakat tersebut menjadi cerminan bahwa stabilitas harga pangan bukan sekadar kebijakan ekonomi, melainkan kebutuhan nyata yang dirasakan langsung oleh warga. 

Program penjualan beras premium Rp77.000 dengan pembayaran QRIS menunjukkan bagaimana kolaborasi antara lembaga dapat memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. 

Selama pelaksanaannya, respons positif yang muncul menjadi indikator bahwa langkah intervensi seperti ini masih sangat relevan, terutama pada momen penting seperti Ramadan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index